Operasionalisasi pada dasranya
adalah menurunkan konsep sehingga dapat menjadi operasional, dapat diukur
(diteliti). Pekerjaan penting dari analisis isi adalah menurunkan konsep
sehingga dapat lebih operasional dan dapat diukur. Di bawah ini merupakan
beberapa teknik dalam menurunkan konsep sehingga dapat lebih operasional.
Uraian didasarkan pada Krippendorff (2004; 162-169).
Kubus
Langkah paling mudah untuk
menurunkan konsep dengan menggunakan pola kubus ini adalah peneliti mencari
dimensi dari konsep yang dapat diturunkan ke dalam variabel sehingga dapat
diukur. Pola Pidato dalam ilustrasi ini diturunkan ke dalam dimensi berupa
bentuk dan tujuan pidato.
Konsep
|
Dimensi
|
Variabel
|
Indikator
|
Butir (Lembar Coding)
|
Pola pidato
|
Bentuk dari
Pidato
|
Bentuk
pidato
|
Bentuk
pidato
|
Pidato
1. Kritik-analisis
Pidato yang dimaksudkan sebagai kritik terhadap lawan politik. Isi
pidato berupa analisis atas kondisi atau situasi.
2. Kritik-fakta.
Pidato yang dimaksudkan sebagai kritik terhadap lawan politik. Isi
pidato tentang fakta dan data untuk mengkritik lawan politik.
|
Tujuan
Pidato
|
Tujuan
Pidato
|
Tujuan
Pidato
|
Pohon
Teknik operasionalisasi ini
dilakukan secara berjenjang. Konsep diturunkan ke dalam dimensi dan elemen yang
lebih kecil dan diturunkan kembali secara terus menerus sehingga ditemukan
indicator yang spesifik. Dengan cara ini konsep yang abstrak dapat
dioperasionalisasikan secara konkret dan dapat diukur. Teknik ini disebut
sebagai teknik pohon (tree) karena memang prosesnya seperti kita menggambarkan
sebuah pohon, dimana dimulai terlebih dahulu dari batang, dari batang dibuat
dahan, dari dahan dibuat ranting, dan dari ranting kemudian dibuat daun.
Sebagai ilustrasi, misalnya kita
membuat analisis mengenai objektivitas pemberitaan media. Objektivitas adalah
konsep yang abstrak. Agar objektivitas dapat diukur, konsep ini harus
dioperasionalisasikan. Salah satu teknik agar konsep ini operasional adalah dengan
menggunakan model pohon (tree). Kita dapat menggunakan skema Westerstahl
(dikutip dari McQuail, 1992) untuk mengukur konsep objektivitas.
Sumber : Disarikan dari McQuail (1992: 196-236)
Westerstahl (dikutip dari
McQuail, 1992), membagi objektivitas ke dalam dua dimensi besar. Pertama, dimensi kognitif. Dimensi ini
berkaitan dengan kualitas informasi dari suatu berita. Kedua, imparsialitas. Dimensi ini berkaitan dengan apakah suatu
berita secara sistematis atau tidak menampilkan satu sisi atau dua sisi dari
isu atau peristiwa yang diberitakan. Objektivita, dengan demikian dapat
didekati dengan melihat dua dimensi, yakni sejauh mana kualitas informasi dan
apakah semua sisi dari perdebadatan dan peristiwa telah diberitakan oloeh
media. Untuk itu, kedua dimensi ini juga harus diturunkan ke dalam sub dan
elemen yang lebih mikro.
Dimensi faktualitas berhubungan
dengan kualitas informasi daru suatu berita. Dimensi ini diturunkan ke dalam
dua subdimensi. Pertama, benar
(truth). Sejauhmana beritamenyajikan informasi yang benar. Subdimensi ini dapat
diturunkan ke dalam subdimensi yang lebih kecil lagi, yakni faktualitas
(pemisahan fakta dari opini, komentar, interpretasi) ; akurasi (kesesuaian
dengan fakta atau peristiwa yang sebenarnya), dan lengkap (semua fakta dan
peristiwa telah diberitakan seluruhnya). Kedua,
relevan. Apakah informasi yang disajikan dalam berita relevan atau tidak.
Relevansi ini dapat diturunkan ke dalam subdimensi yang lebih kecil, yakni
normative (relevansi dengan keyakinan umum) ; jurnalistik (relevansi sesuai
dengan kesepakatan dan kebiasaan yang diterima oleh komunitas jurnalistik) ;
khalayak (relevansi dari kacamata khalayak), dan dunia realitas. Sementara
dimensi imparsialitas berkaitan dengan apakah berita telah menyajikan secara
adil semua sisi dari peristiwa dan perdebatan yang diberitakan. Dimensi ini
dapat diturunkan ke dalam dua subdimensi. Pertama,
berimbang (balance). Kedua, netral.
Konsep
|
Dimensi
|
Subdimensi
|
Variabel
|
Indikator
|
Butir (Lembar Coding)
|
Objektivitas
|
Faktualitas
|
Truth
|
Tingkat truth dalam berita
|
Faktualitas
|
Berikan skor atas faktualitas dalam
berita
(1 = sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
Akurasi
|
Berikan skor atas faktualitas dalam
berita
(1 =
sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
||||
Lengkap
|
Berikan skor atas faktualitas dalam
berita
(1 =
sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
Konsep
|
Dimensi
|
Subdimensi
|
Variabel
|
Indikator
|
Butir (Lembar Coding)
|
Relevansi
|
Tingkat truth dalam berita
|
Normatif
|
Berikan skor atas relevansi dari sisi
normatif
(1 = sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
||
Jurnalistik
|
Berikan skor atas relevansi dari sisi
jurnalistik
(1 = sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
||||
Khalayak
|
Berikan skor atas relevansi dari sisi
khalayak
(1 = sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
||||
Real-world
|
Berikan skor atas relevansi dari sisi
real-world
(1 = sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
||||
Imparsialitas
|
Berimbang
|
Tingkat keberim-
bangan berita
|
Akses-
proporsional
|
Berikan skor atas akses- proporsional
dalam berita
(1 = sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
|
Dua sisi
|
Berikan skor atas liputan dua sisi dalam
berita
(1 = sangat baik; 10 = sangat buruk).
|
||||
Netral
|
Tingkat netralitas
berita
|
Non- evaluatif
|
Berikan skor atas non- evaluatif dalam
berita
(1 = sangat
baik; 10 = sangat buruk).
|
||
Non-
sensasional
|
Berikan skor atas non- sensasional dalam
berita
(1 = sangat
baik; 10 = sangat buruk).
|
Rantai (Chains)
Modellain yang dapat dipakai
untuk melakukan operasionalisasi konsep adalah rantai (chains). Model ini
berbeda dengan model pohon (tree) yang diuraikan sebelumnya. Dalam model pohon, operasionalisasi dibuat dalam bentuk
berjenjang, seperti pohon. Dalam model rantai operasionalisasi menyimpang
(horizontal), seperti sebuah rantai. Konsep diukur dari rangkaian-rangkaian
dimensi dan variabel. Dimana model rantai, peneliti menggunakan banyak konsep,
dan masing-masing konsep diukur dengan variabel dan indicator masing-masing.
Karena itu, model ini disebut sebagai model rantai, karena mirip seperti
rangkaian rantai.
Konsep
|
Dimensi
|
Variabel
|
Indikator
|
Butir (Lembar Coding)
|
Jenis
kelamin
|
-
|
Jenis
kelamin
|
Jenis
kelamin
|
Jenis kelamin model dalam iklan orang kulit hitam
(0 = laki-laki; 1 = perempuan).
|
Usia
|
-
|
Usia
|
Usia
|
Usia model dalam iklan orang kulit hitam
(1 = anak-anak,
2 = remaja, 3 = dewasa, 4 = tua).
|
Gambar
|
-
|
Tipe gambar
|
Tipe gambar
|
Tipe gambar dalam iklan orang kulit hitam
(1 = foto, 2 = gambar,
3 = kartun).
|
Posisi dalam
iklan
|
-
|
Posisi dalam
iklan
|
Posisi dalam
iklan
|
Posisi model orang kulit hitam dalam
iklan
(1 = kecil 2 = sedang, 3 = besar).
|
Interaksi
|
-
|
Jenis
interaksi
|
Jenis
interaksi
|
Jenis interaksi (1= menampilkan model
seorang diri, 2 = interaksi social, 3 = interaksi kerja, 4 = tidak ada
interaksi).
|